There was an error in this gadget

Wednesday, 14 March 2012

Ibrah : Untuk Mu Kader Dakwah

Selalu, dalam sebuah peristiwa besar,
hanya sedikit orang yang menggerakkannya.
Merekalah pelaku sejarah.
Merekalah yang sadar akan skenario cerita.
Merekalah yang mampu melihat akhir sebuah proses.
Maka merekalah yang memutar biduk kehidupan.
Dan KITA adalah MEREKA!

Kita berbeda bukan karena kita lebih mulia.
Kita berbeda bukan karena kita lebih utama.
Kita berbeda karena perbedaan tersebut adalah pilihan,
dan kita telah memilih!
Apa yang kita pilih??
Kita memilih untuk bersama keimanan.
Kita memilih untuk berhimpun dalam ketaatan.
Kita memilih untuk bergerak dalam satu aturan.
Kita memilih Islam untuk kehidupan.
Kita memilih:
Allah Ghoyatuna,
Muhammad Qudwatuna,
Alquran Dusturuna, Al Jihaad Sabiiluna,
Al Mautu Fii Sabiilillah Asma Amaaniina.

Tingginya antusiasme masyarakat,
dari sekadar simpati, sampai menyatakan dukungannya terhadap partai dakwah, menandakan partai dakwah saat ini adalah sebuah kekuatan baru. Bukan (sekadar) kekuatan alternatif. Jika para pemegang kekuasaan itu tidak kuat-kuat memegang amanah karena orientasi/niat yang telah berubah, maka mulai saat itu fitnah telah terjadi pada kekuasaan. Kemenangan maupun kekalahan tidak identik dengan perencanaan. Terkadang kemenangan itu datangnya lebih cepat dari skenario yang kita rencanakan, begitu juga sebaliknya. Sehingga para kader dakwah jangan terlena dengan kondisi yang ada saat ini.


Waspada, dan berhati-hatilah!

Mereka yang memperturutkan hawa nafsunya telah digambarkan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah, “Ia tertarik kepada kehormatan dan kepemimpinan, lalu ia suka kepada perkataan yang batil dan benci kepada perkataan yang benar. Ia diperbudak oleh orang yang memujinya walaupun pujian itu batil, sedangkan ia memusuhi orang yang mencelanya walaupun celaan itu benar.
Mereka menjalankan dakwah di atas budaya sloganistik, basa-basi bahasa dan mengikuti arus belaka. Dalam waktu yang sama pasti akan terjadi perpecahan internal, persaingan antar aktivis, dan pengkhianatan. Mereka justru menunggangi ummat walau berteriak, “Semua demi Ummat!”. Na’udzubillahimindzaalik…

Bukan bendera-bendera kecil berkibar yang akan memperkenalkan manusia pada dakwah. Bukan pula slogan-slogan kosong di mimbar-mimbar. Namun, gerak langkah dan setiap desiran jiwa yang dipenuhi dzikrullah nan bercahaya. Qudwah, Uswah, yang memesonakan setiap mata dan perlahan akan menarik mereka ke dalam dakwah laksana laron mengelilingi pelita.


Waspadai virus “narsist” hizb yang menjurus pada riya’ dan sombong.


Apakah tidak cukup Sejarah Perang Uhud menjadi pelajaran bagi kita?
Disorientasi tujuankah? 
Sehingga ghanimah lebih menyilaukan mata?

Dengan kekuatan dan jumlah yang lebih besar dibanding Perang Badar?
Ataukah kita adalah salah satu dari pembangkang perintah Qiyadah dan Jama’ah? 
 Sehingga terkorbankan di medan laga. Mati sia-sia.
Jangan sampai sejarah Perang Uhud terulang kembali.
Kita berharap, kita adalah salah satu dari mereka yang tidak terlena dengan kilauan harta, tahta, dan wanita; tetap tho’at kepada Allah dan Rasulnya; dan senantiasa memegang teguh Asholah Dakwah.

“Allah telah menetapkan, Aku dan Rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Qs. Al Mujadilah: 21)

ISTIQOMAH!
Ini adalah amanah Allah, amanah Ummat, dan Jama’ah.
 Ketika ikhwah tidak istiqomah, walaupun ruhiyahnya tetap terjaga,
cepat atau lambat ia akan masuk perangkap
yang menjerumuskannya ke dalam jurang kesesatan.
Sebab,
 fitnah-fitnah kekuasaan hadir ketika kita tidak lagi konsisten dengan yang diperjuangkan.


Kembali ke pangkuan tarbiyah…
Lets back to Asholah..!!


Bersiaplah untuk MENANG, dan tetap “WASPADA”!